SEBUAH MIMPI YANG PANJANG...
Part 1
oleh: Mulyadi tenjo
Malam sudah semakin larut. tapi hawa kantuk belum juga menghampiriku. padahal semestinyanya aku sudah teridur lelap agar paginya bisa bangun lebih segar. besok adalah jadwal kuliah pagi, jadwal matakuliah paktik yang memerlukan banyak energi agar bisa konsentrasi penuh. entahlah mataku sepertinya enggan tidur.
Dan dengan membaca aku pikir bisa memancing hawa kantukku. kulirik deretan buku di rak butut. cuma deretan buku2 tebal yang menyebalkan semuanya tentang buku2 penunjang mata kuliah yang isinya kebanyakan tutorial dengan source2 coding pemrograman yang tak asyik untuk penghantar tidur. tapi kudapati satu , dihimpitan buku2 kusam yang berantakan. sebuah buku coklat , catatan harian.
Kuambil buku harian itu, debu2 yang menempel memancing penasaran ku untuk melihat kembali catatan2 yang aku buat . perlahan aku baca, lembar perlembar yang ternyata itu catatan 7 tahun yang lalu . sebuah lipatan menyembunyikan catatan ringan yang menarik. catatan yang membuat aku tertawa sendiri . sebuah cerita yang bisa2nya aku catat di buku harian itu.
“Adalah 21 Juli 2002. disuatu pagi yang cerah selepas teminal Baranang siang di Kota Bogor. didalam Mikrolet menuju Ciawai aku duduk sendiri menikmati laju kendaraan yang melaju sangat santai. ya…cuma aku sendirian dalam mikrolet itu. namun selepas Sukasari mikrolet itu berhenti , dan sepasang anak Adam naik membelalakan mataku, mengisi bangku kosong didepanku.
Aku menghela napas melihat pemandangan didepanku itu. bukan pemandangan sensual yang bisa aku temukan di sepanjang jalan di kota Bogor. tapi sensual lain yang lebih dari itu, sensual yang tidak senonoh apalgi urakan diobral layaknya barang kakilima di pasar Taman Topi. sosok wanita cantik dengan gamis muslimah yang tak menyisakan sedikit pun celah aurat . pemandangan yang siapapapun akan berteriak “subhanallah!”.
Begitu cantik titisan Hawa ini, matanya bening memancarkan binaran kasih sayang. hidungnya manis diantara lesung yang sedikit memerah. bibirnya tipis bewarna alami menyunting kulum senyum yang “astagfirullah!” manisnya, menghiasi deretan gigi yang berjejer rapi layaknya butiran biji mentimun . suaranya sangat merdu menggetarkan genderang telingaku dengan cengkok khasnya. ya ………aku merasakan semuanya.
Bibirku yang ceriwis ingin segera mereka tanya. menganga hendak melepas kalimat pembuka. siasat untuk berpura-pura bertanya sesuatu agar bisa kenalan , ngobrol-ngobrol sebentar untuk selanjutnya mendapat dorprize kartu alamat dan nomor telpon tersusun rapi dikepalaku. tapi……….
Tapi saat itu aku tak mungkin melakuannya. bukan lantaran lidahku kaku , bukan lantaran aku tak berani atau lantaran takut di cuekin. bukan?
di kota Bogor tak ada tanya pembuka silaturahmi yang tak berbalas jawab lantaran kesombongan . di kota ini ta ada sombong yang diiara, tak ada pembudidayaan sipat jutek, tak ada. semuanya ramah dan penuh kehangatan persaudaraan.
Lalu, mengapa aku tak mungkin melakukannya , tak mungkin melempar tanya kepada wanita scantik itu?
Itu!
Cowok yang duuk didekatnya.
“Oo. ada bodyguadnya to!” dalam hati.
dan bukan cuma itu yang membuat aku menelan ludah kental-kental, bayi mungil yang ada di pangkuannya itu, membungkam segala hasrat dan ceiwisku.
ya. yang duduk didepanku itu tak lain adalah sepasang suami istri , pasangan muda.
Umur mereka sepertinya masih sangat muda. bapak si bayi itu paling seumuran aku , kalaupun lebih paling dua atau tiga taunan dari umurku saat ini. bahagia banget sepertinya pasangan muda itu, itu telihat dari raut mukanya yang beseri-seri selalu, terlebih saat mereka bergantian memangku bayi kecil nan lucu itu.
“Kok bisa ya berumah tangga muda?” tanyaku dalam hati.
Ting! pikiranku terbang kealam hayalan, membayangkan sesuatu yang tidak mungkin tejadi. membayangkan sesuatu hal yang mustahil , hal yang tak akan pernah benar-benar tejadi. membayangkan seandainya Lelaki yang duduk disamping muslimah cantik itu adalah aku. membayangkan seandainya yang menjadi ayah dari bayi kecil itu adalah aku.
“Bahagia banget deh Gue…..!” pikirku.
“Masih muda punya istri cantik , punya anak dan menjalani rumah tangga bahagia. mungkin kalu masih muda-muda begitu kayak pacaran aja kali ya? ih, jadi ingin………..!” aku senyum-senyum sendiri.
Memasuki pasar ciawi pasangan muda itu turun. aku menatap pasangan muda itu sampai jauhnya. hingga lenyap di belokan dan teerhalang oleh gedung-gedung disekitar sana. sebuah pemandangan mengagumkan yang sedikit mencemburukan hati hilang sudah. menyisakan bayangan – bayangan menakjubkan dihatiku. bayangan tentang dua pasangan yang begitu telihat sempurna dimataku. bayangan yang akan aku bawa pulang , menjadi oleh-oleh sepanjang usiaku.
“Bahagia deh Loooooo…..!” Gumamku, sambil bergidik istighpar, mengusir khayalan-khayalan menysatkan.
Bayangan sejoli itu tebawa sampai aku turun dan pindah angkot di terminal Ciawi. terbawa utuh, sampai ke ruang berbau khas , bebau obat-obatan dan berwarna khas , umah sakit Ciawi. dan didepan temanku yang berbaring sakit , bayangan sejoli itu masih utuh diingatanku. bahkan sampai…………..
21 Juli 2002!”
Tanggal 21 Juli mengakhiri catatan di Bulu harian kusam itu, sebuah catatan yang aku tulis tujuh tahun yang lalu.
Part 2
Hampir jam 2 pagi.
mataku sudah mulai berat. hawa kantuk sepertinya mliai menyerang. dan sepertinya aku sudah tak sanggup lagu untuk membaca beberapa catatan di buku harian kusam itu. dan…..
Sebuah waktu, membuat aku terpaku.
berada di “entah” tahun berapa aku saat itu berada. dan entah di ngeri mana aku berada. aku berdiri seperti orang asing, karena tak kudapati seorangpun yang kukenali. begitupun dengan riuh ramainya suasana saat itu. yang aku kira itu sebuah prosesi.
kulihat banyak sekali bunga-bunga indah yang ditata disetiap ruangan, begitu eloknya. dan kulihat beberapa orang terampil tengah sibuk menata sebuah tempat , begitu apiknya, yang aku pikir itu sebuah pelamainan megah.
Kuperhatikan angkaian bunga yang ditata di ruangan-ruangan itu sangat teamat cantik. sangat dkloratip. berjejer sangat jauhnya , warna-warni yang aku pikir itu semua bunga segar yang pasti mahal harganya. tempat itu laksana “Flower Shop” di sebuah bazar bunga. atau mungkin seperti taman bunga yang di pindah keruangan. aku tak henti-hntinya berdcak kagum dengan semua yang kulihat itu. sangat kagum.
Semua yang aku lihat mungkin itulah kejadian mengaggumkan dari objek teindah yang pertamakalinya aku lihat seumur hidupku.
Kuperhatikan…..
=======================================================================
*Sambungan minggu lalu.
=======================================================================
Part 2
“ Pak itu setingnya sudh sempurna. Sesuai dngan pesanan bapk!”
Kata seoang lelaki yang tiba – tiba sudh ada dismpingku. Semula aku diam saja karena ku pikir dia bukan bicara denganku, tapi setelah tengok kiri kanan cuma aku yang berdekatan dengan orang tesebut.
“Bicara dengn saya?” tanyaku. Karuan lelaki itu tersenyum dan menepuk pundakku.
“Ah pak Dzikri ini suk becanda?”
“Pak Dzikri..?”tnyaku dalam hati. Itu bukan namaku, namun sebelum ku bertanya lebih jauh, lelaki yang memanggilku Pa Dzikri itu keburu pergi.
“Saya Mau menyelesaikan pekerjaan saya dulu pak!” sebelum dia pergi. Ku jawab dengan anggukn kepalakku.
Karena terpesonanya aku dengan ruangan yang penuh bunga itu. Aku jadi penasaran untuk melihat sudut-sudut ruangan yang dilihat dari jauh terlihat sama indahnya dengan yang aku dapati didekatku.
Biru nyaris mendominasi warna dinding yang sangat luas. Putih adalah warna sempurna yang membalut ratusan meja dan kursi dengan dibawahnya lantai yang sempurna pula. Lantai yang terbuat dari batuan marmer kelas satu. Dan karpet merah membentang jauhnya ke sebuh singgasana yang ku pikir itu sebuh pelaminan.semua penataan ruangan di tempat itu aku pikir itu adalah hasil penataan yang hebat.
Belum tuntas rasanya aku menikmati keindahan tempat itu jika aku belum tahu untuk sipa tempat megah itu di buat, untuk pernikahan siapa, atau untuk pertemuan dan entah acara apa? Aku ingin tahu. Untuk pernikhan kaum Borjuiskah, atau kaum hedonis , yang jelas bukan kaum proletar sepertiku tentunya.
Aku yakin hanya orng2 yang berdebet rekening tinggi yang mampu membayar semua kemegahan tesebut. Bukan kaum seperti aku. Tapi satu hal, kenapa aku berada di tempt seperti itu. Ditempat dengan kemegahan yang membuat aku terasingkan. Untuk apa aku disana? Untuk apa, sebagai apa kapasitasku? Dan entah berapa lama aku berdiri disatu titik diamana aku bisa melihat semua kemagahan ruangan sebelum akhirnya aku teperanjat lagi oleh sebuah tepukan tangan di pundaku.
“Hello pa Dzikri, bengong aja?” lagi-lagi lelaki itu.
“Tidak. Saya cuma kagum dengan semu kemeghan ini pak!” jawabku. Lelaki itu tersenyum , kemudian berdiri di dekatku dengan tumpukan tangkai bunga di tangannya.
“Ini untuk acara apa pak? Sepertinya untuk sebuh resepsi pernikahan?” kembali lelaki itu tersenyum.
“betul!” jawabnya sambil merangkai tangkai-tangkai bunga yang sepertinya sebuah mainan indah yang terampil menjadi untaian rangkai indah.
“Pernikahan siapa pak, pasti bukan orang sembarangan. Dilihat dari konsep dan detail pengerjaan ruangan ini pastilah hanya orang-orang berkelaslah yang pantas untuk semu ini?” lagi tanyaku.
“Ini pernikahan 5 Milyar pak!” jawab lelaki itu ,diselingi dengan senyum ramahnya.
“5 Milyar Pak? Waw....untuk sebuah pernikahan?” aku kaget.
Lelaki itu diam. Lalu menatapku. Keningya mengernyit, tapi tak lama kemudian Ia tersenyum .
“Untuk pasangan yang beruntung!”jawabnya sangat santai.
“Siapa pasangan yang beruntung itu pak?” aku semakin penasaran.
“Nanti juga pa Dzikri tahu siapa pasangan yang beruntung itu!” lelaki setengah baya itu malah berteka teki, karuan semakin membuat penasaran saja.
“Pa Edmond, semua pengerjaan ruangan sudah selesai. Pinishing touch, lighting, sound dan semua pernik telah oke. Semuanya sudah siap!” tiba-tiba seorng pekerja menghampiri lelaki itu.
Pak Edmond namanya, pikirku dalam hati tentang lelaki setengah baya tesebut.
=============================================================================================
sambungan dari cerita kemarin....
=============================================================================================
"Oke. Bagus! berarti kita tidak mengecewakan Pak Dzikri!" Jawab pak Edmond kepada pekerjanya itu sambil melirik kearahku.
"Lho!, maksudnya Pak?" tanyaku semakin keheranan. aku merasa aneh dengan sikap pak Edmond tersebut.
"Tuh , Pak Dzikri ini memang suka becanda. O. ya, sepertinya sebentar lagi pak Dzikri mesti segera bersiap-siap.....!" jawabnya lagi. sungguh semu jawaban Pak Edmond tak satu pun yang ku mengerti. tentang aku yang dipanggil Pak Dzikri, tentang pernikahan 5 milyar, tentang pasangan mempelai yang beruntung, dan terakhir, pernyataan tak akan mengecewakan Pak Dzikri, kenyataanya yang dipanggil Pak Dzikri tersebut adalah aku.
Sungguh semuanya seperti permainan tanya , yang menyisakan banyak sekali penasaran yang akan membuat aku semakin penasaran jika semua permainan tanya tersebut tak kudapati jawabnya. aku masih kebingungan, dan aku tak tahu mesti pada siapa mencari semua jawaban-jawaban yang bisa menyelesaikan permainan tanya tersebut.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita cantik berpakaian sangat rapi, menghampiri kami. dengan sopannya wanita itu menganggukan kepala , tanda hormat untuk kami.
"Selamat sore Pak?, maaf mengganggu. pukul 16.30 ini Pak Dzikri mesti segera dijemput. karena 5 menit kemudian bapak mesti sudah berada diruang Make-up!" ucap wanita itu sangat hati-hati.
"Ayo pak Silahkan!" Kata Edmond mempersilahkan aku.
dan entahlah aku seperti kerbau dicucuk hidung saja , mengikuti saja semua yang diucapkan wanita dan pek Edmond itu.
aku seperti manusia istimewa saat itu. wanita berpakaian rapi itu membimbingku kesebuah ruangan dengan sangat sopannya. dan aku pikir semua yang lakukan wanita itu merupakan tindakan profesional, dan semua yang aku dapati dari perlakuakn wanita tersebut aku yakin itu sebuah pelayanan kelas profesional. dan yang mendapatkan pelayanan seperti itu hanya orang-orang kelas satu. tapi mengapa aku yang mendapatkan pelayanan demikian?
aku bukan orang sengan predikat kelas satu, aku hanya seorang guru disebuah sekolah swasta di pinggiran kota,yang sepertinya aneh jika mesti mendapatkan pelayanan seperti itu.
Aneh!
aku harus mengatakannya demikian.
"Mbak, sebetulnya siapa sebenarnya saya?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku.
wanita itu tersenyum, seperti halnya Pak Edmond .
"Bapak adalah Dzikri Ghifari. seorang yang telah sukses mewujudkan mimpi terbaiknya. seorang enterpreneur sukses yang sebentar lagi akan bersanding dengan wanita cantik...!"jawab wanita itu dengan sangat yakin.
"Maksudnya saya?" Lagi tanyaku dengan sangat terkejut.
Wanita itu cuma tersenyum melihat tingkahku. sebuah senyuman yang semakin memantapkan penasaranku.
"Maap pak , sudah sampai. silahkan..!" wanita itu mempersilahkan aku untuk masuk ke sebuah ruangan. dipintu masuk aku sempat melirik keruangan lain yang kebetulan pintunya sedikit terbuka.sekelbat kulihhat seorang wanita sedang di tata oleh beberpa perempuan yang kukira adalah perias pengantin. sekalipun sepintas aku sangat yakin wanita yang tengah di dandani itu pastilah sangat cantik.
"Mbak Indri! tolong Pak Dzikri dibuat segagah mungkin!" titah wanita yang sedari tadi belum sempat kukerahi namanya. wanita cantik dengan sikap propesionalisme yang tinggi. entah bagia apa wanita itu di tempat semegah itu. dan dengan sangat cekatan wanita yang dipanggil Mbak Indri itu mengarahkanku kesebuah kursi di depan cermin besar, yang aku ketahui di film-film kursi dengan bentuk seperti itu adalah kursi rias. atau entahla...yang aku pikir pasti untuk mendandaniku.
"Selamat sore Pak? anda berada diruang yang tepat dengan segaa keberuntungan anda saat ini, karena kami sangat profesional!" seorang wanita yang dipanggil Indri itu memulai pekerjaannya dengan sebuah kalimat yang luarbiasa, kalimat yang hampir-hampir tidak aku mengerti apa maksudnya.tapi ikenyataanya dengan awal kalimat sebagus itu aku diperlakukan sangat istimewa, untuk yang kesekian kalinya. dan mulailah rambutku di sentuh dengan terampil. padahal rambutku biasanya paling dicuci seminggu sekali itu pun kalo ingat dan kebetulan adikku membeli shampoo.
tapi kali ini mendapat penataan yang sangat profesional.
"Ini akan mengkilaukan rambut bapak!" kata Indri sambil melumurkan lotion kerambutku dengan sangat hati-hati.
..........
=========================
Bersambung.........!